Menjawab Vonis: Cinta Tanah Air Tidak Ada Dalilnya

Mencintai tanah air adalah hal yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam

Bambu Runcing (Sumber: www.tembi.net)

Pendahuluan

Jargon “Hubbul Wathan Minal Iman” atau “cinta tanah air sebagian dari iman” bagi masyarakat Indonesia khususnya di kalangan nahdliyyin, tentu sangat populer dan familiar. Hal ini cukup beralasan karena jargon “Hubbul Wathan Minal Iman” menjadi bagian bait syi’ir atau lagu kebangsaan karya KH. Wahab Chasbullah, yang selalu dinyanyikan setiap kali NU beserta Banomnya ada event atau kegiatan.

Semangat yang diusung di dalam “hubbul wathan minal iman” adalah semangat nasionalisme yang berbalut ruh ke-Islaman. Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pernah mengatakan; “Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan”.

Belakangan ini, muncul kelompok kecil di Indonesia dengan paham trans-nasionalnya memvonis bahwa; cinta tanah air tidak ada dalilnya. Nasionalisme atau cinta tanah air tidak memiliki landasan syari’at dalam Islam. Dengan kata lain, cinta tanah air termasuk dilarang agama. Mereka beralasan bahwa nasionalisme adalah bentuk fanatisme yang dilarang dalam Islam, dan hadits “hubbul wathan minal iman” adalah hadits maudlu’ atau palsu.

Benarkah vonis dari kelompok kecil tersebut, bahwa nasionalisme atau cinta tanah air tidak ada dalinya? Mari kita simak tulisan berikut ini, yang akan mengurai tentang dalil-dalil cinta tanah air.

Nasionalisme Dan Tanah Air

Nasionalisme berasal dari kata nation (B. Inggris) yang berarti bangsa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata bangsa memiliki beberapa arti: (1) kesatuan orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya serta berperintahan sendiri; (2) golongan manusia, binatang atau tumbuh-tumbuhan yang mempunyai asal usul yang sama dan sifat khas yang sama atau bersamaan, dan (3) kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan biasanya menempati wilayah tertentu di muka bumi[1].

Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri dankesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Nasionalisme dalam arti sempit dapat diartikan sebagai cinta tanah air. Selanjutnya, dalam tulisan ini yang dimaksud dengan nasionalisme yaitu nasionalisme dalam arti sempit.

Al-Jurjani dalam kitabnya Al-Ta’rifat mendefinisikan tanah air dengan al-wathan al-ashli.

اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ [2]

Artinya; al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

Dalil-Dalil Cinta Tanah Air

Mencintai tanah air adalah hal yang sifatnya alami pada diri manusia. Karena sifatnya yang alamiah melekat pada diri manusia, maka hal tersebut tidak dilarang oleh agama Islam, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran/nilai-nilai Islam.

Meskipun cinta tanah air bersifat alamiah, bukan berarti Islam tidak mengaturnya. Islam sebagai agama yang sempurna bagi kehidupan manusia mengatur fitrah manusia dalam mencintai tanah airnya, agar menjadi manusia yang dapat berperan secara maksimal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, serta memiliki keseimbangan hidup di dunia dan akhirat.

Berkenaan dengan vonis bahwa cinta tanah air tidak ada dalilnya, maka guna menjawab vonis tersebut, perlu kiranya kita mencermati paparan ini. Berikut adalah dalil-dalil tentang bolehnya cinta tanah air:

1. Dalil Cinta Tanah Air Dari Al-Qur’an

Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penuturan para ahli tafsir adalah Qur’an surat Al-Qashash ayat 85:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ  (القصص: 85)

Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85)

Para mufassir dalam menafsirkan kata “معاد” terbagi menjadi beberapa pendapat. Ada yang menafsirkan kata “معاد” dengan Makkah, akhirat, kematian, dan hari kiamat. Namun menurut Imam Fakhr Al-Din Al-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib, mengatakan bahwa pendapat yang lebih mendekati yaitu pendapat yang menafsirkan dengan Makkah.

Syaikh Ismail Haqqi Al-Hanafi Al-Khalwathi (wafat 1127 H) dalam tafsirnya Ruhul Bayan mengatakan:

وفي تَفسيرِ الآيةِ إشَارَةٌ إلَى أنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإيمانِ، وكَانَ رَسُولُ اللهِصلى الله عليه وسلميَقُولُ كَثِيرًا: اَلْوَطَنَ الوَطَنَ، فَحَقَّقَ اللهُ سبحانه سُؤْلَهُ ……. قَالَ عُمَرُ رضى الله عنه لَوْلاَ حُبُّ الوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوءِ فَبِحُبِّ الأَوْطَانِ عُمِّرَتْ البُلْدَانُ.[3]

Artinya: Di dalam tafsirnya ayat (QS. Al-Qashash:85) terdapat suatu petunjuk atau isyarat bahwa “cinta tanah air sebagian dari iman”. Rasulullah SAW (dalam perjalanan hijrahnya menuju Madinah) banyak sekali menyebut kata; “tanah air, tanah air”, kemudian Allah SWT mewujudkan permohonannya (dengan kembali ke Makkah)….. Sahabat Umar RA berkata; “Jika bukan karena cinta tanah air, niscaya akan rusak negeri yang jelek (gersang), maka sebab cinta tanah air lah, dibangunlah negeri-negeri”.

Selanjutnya, ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama’ yaitu Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 66.

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم  أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم …(النساء66:)

Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka  (orang-orang munafik): “Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!” niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka…” (QS. An-Nisa’: 66).

Syaikh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya Al-Munir Fi Al-Aqidah Wa Al-Syari’ah Wa Al-Manhaj menyebutkan:

وفي قوله🙁 أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ ) إِيْمَاءٌ إِلىَ حُبِّ الوَطَنِ وتَعَلُّقِ النَّاسِ بِهِ، وَجَعَلَه قَرِيْنَ قَتْلِ النَّفْسِ، وَصُعُوْبَةِ الهِجْرَةِ مِنَ الأوْطَانِ[4]

Artinya: Di dalam firman-Nya ( َوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ)  terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.

Pada kitabnya yang lain, Tafsir Al-Wasith, Syaikh Wahbah Al-Zuhaily mengatakan:

وفي قَولِهِ تَعَالى: (أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيارِكُمْ) إِشَارَةٌ صَرِيْحَةٌ إلَى تَعَلُقِ النُفُوْسِ البَشَرِيَّةِ بِبِلادِها، وَإِلَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مُتَمَكِّنٌ فِي النُفُوْسِ وَمُتَعَلِقَةٌ بِهِ، لِأَنَّ اللهَ سُبْحانَهُ جَعَلَ الخُرُوْجَ مِنَ الدِّيَارِ وَالأَوْطانِ مُعَادِلاً وَمُقارِنًا قَتْلَ النَّفْسِ، فَكِلَا الأَمْرَيْنِ عَزِيْزٌ، وَلَا يُفَرِّطُ أغْلَبُ النَّاسِ بِذَرَّةٍ مِنْ تُرابِ الوَطَنِ مَهْمَا تَعَرَّضُوْا لِلْمَشَاقِّ والمَتَاعِبِ والمُضَايَقاتِ[5]

Artinya: Di dalam firman Allah “keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah SWT menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.

Ayat Al-Qur’an selanjutnya yang menjadi dalil cinta tanah air, menurut ahli tafsir kontemporer, Syaikh Muhammad Mahmud Al-Hiajzi yaitu pada QS. At-Taubah ayat 122.

وَما كانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ . (التوبة :122)

Artinya: Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Syaikh Muhammad Mahmud Al-Hijazi dalam Tafsir Al-Wadlih menjelaskan ayat di atas sebagai berikut:

وتُشِيرُ الآيةُ إلى أنَّ تَعَلُّمَ العلمِ أَمْرٌ واجِبٌ على الأمَّةِ جَميعًا وُجُوبًا لا يَقِلُّ عَن وُجوبِ الجِهادِ والدِّفاعُ عَنِ الوَطَنِ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ، فَإِنَّ الوَطَنَ يَحْتاجُ إلى مَنْ يُناضِلُ عَنْهُ بِالسَّيفِ وَإِلَى مَنْ يُنَاضِلُ عَنْهُ بِالْحُجَّةِ وَالبُرْهَانِ، بَلْ إِنَّ تَقْوِيَةَ الرُّوحِ المَعْنَوِيَّةِ، وغَرْسَ الوَطَنِيَّةِ وَحُبِّ التَّضْحِيَةِ، وَخَلْقَ جِيْلٍ يَرَى أَنَّ حُبَّ الوَطَنِ مِنَ الإِيمَانِ، وَأَنَّ الدِّفَاعَ عَنْهُ وَاجِبٌ مُقَدَّسٌ. هَذَا أَسَاسُ بِنَاءِ الأُمَّةِ، ودَعَامَةُ اسْتِقْلَالِهَا[6]

Artinya: ayat tersebut mengisyaratkan bahwa belajar ilmu adalah suatu kewajiban bagi umat secara keseluruhan, kewajiban yang tidak mengurangi kewajiban jihad, dan mempertahankan tanah air juga merupakan kewajiban yang suci. Karena tanah air membutuhkan orang yang berjuang dengan pedang (senjata), dan juga orang yang berjuang dengan argumentasi dan dalil. Bahwasannya memperkokoh moralitas jiwa, menanamkan nasionalisme dan gemar berkorban, mencetak generasi yang berwawasan ‘cinta tanah air sebagian dari iman’, serta mempertahankannya (tanah air) adalah kewajiban yang suci. Inilah pondasi bangunan umat dan pilar kemerdekaan mereka.

Ayat-ayat di atas sebagaimana telah jelaskan oleh para mufassir dalam kitab tafsirnya masing-masing merupakan dalil cinta tanah air di dalam Al-Qur’an Al-Karim.

2. Dalil Cinta Tanah Air Dari Hadits

Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjadi dalil cinta tanah air menurut penjelasan para ulama’ ahli hadits, yang dikupas tuntas secara gamblang:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ……. وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ .[7]

Artinya; diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju ontanya. Apabila beliau menunggangi onta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalany (wafat 852 H) dalam kitabnya Fath Al-Bari Syarh Shahih Bukhari, menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil (petunjuk). Pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah. Kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya.

Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini (wafat 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatu Al-Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:

وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ[8]

Artinya; di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.

Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (wafat 911 H) dalam kitabnya Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih menyebutkan:

1802 – حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا»، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: جُدُرَاتِ، تَابَعَهُ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ. (درجات): بفتح المهملة والراء والجيم، جمعدرجة، وهي طرقها المرتفعة، وللمستملي: “دوحاتبسكون الواو، وحاء مهملة جمع دوحة، وهي الشجرة العظيمة. (أوضع): أسرع السير. (مِنْ حُبِّها) أي: المدينةِ، فِيْهِ مَشْرُوعِيَّةُ حُبِّ الوَطَنِ والحَنينِ إليه[9]

Artinya: Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju ontanya. Apabila beliau menunggangi onta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Bercerita kepadaku Qutaibah, bercerita padaku Ismail dari Humaid dari Anas, ia berkata: dinding-dinding. Harits bin Umair mengikutinya.

Sependapat dengan Ibn Hajar Al-Asqalany, Imam Suyuthi di dalam menjelaskan hadits sahabat Anas di atas, memberikan komentar: di dalamnya (hadits tersebut) terdapat unsur disyari’atkannya cinta tanah air dan merindukannya.

Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh Syaikh Abu Al Ula Muhammad Abd Al-Rahman Al-Mubarakfuri (wafat 1353 H), dalam kitabnya Tuhfatu Al-Ahwadzi Syarh Al-Tirmidzi berikut;

وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِينِ إِلَيْهِ .[10]

Hadits berikutnya yang menjadi dalil cinta tanah air yaitu hadits riwayat Ibn Ishaq, sebagimana disampaikan Abu Al-Qosim Syihabuddin Abdurrahman Bin Ismail yang masyhur dengan Abu Syamah (wafat 665 H) dalam Kitabnya Syarh Al-Hadits Al-Muqtafa Fi Mab’atsi Al-Nabi Al-Mushtafa berikut:

قَالَ السُّهَيْلِي: ” وَفِي حَدِيْثِ وَرَقَةَ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللهِصلى الله عليه وسلملَتُكَذَّبَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ لَهُ النَّبِيُّصلى الله عليه وسلمشَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُؤْذَيَنَّهْ، فَلَمْ يَقُلْ النَّبِيُّصلى الله عليه وسلمشَيْئاً، ثُمَّ قَالَ: وَلَتُخْرَجَنَّهْ، فَقَالَ: َأوَ مُخْرِجِيَّ هُمْ؟  فَفِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ اْلوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ.[11]

Al-Suhaily berkata: Dan di dalam hadits (tentang) Waraqah, bahwasanya ia berakata kepada Rasulullah SAW; sungguh engkau akan didustakan, Nabi tidak berkata sedikitpun. Lalu ia berkata lagi; dan sungguh engkau akan disakiti, Nabi pun tidak berkata apapun. Lalu ia berkata; sungguh engkau akan diusir. Kemudian Nabi menjawab: “Apa mereka akan mengusirku?”. Al-Suhaily menyatakan di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati.

Abdurrahim bin Husain Al-Iraqi (wafat 806 H) di dalam kitabnya Tharh Al-Tatsrib Fi Syarh Taqribi Al-Asanid Wa Tartibi Al-Masanid, pada hadits yang sama, juga mengutip pendapatnya Al-Suhaily:

فَقَالَ السُّهَيْلِيُّ فِي هَذَا دَلِيلٌ عَلَى حُبِّ الْوَطَنِ وَشِدَّةِ مُفَارَقَتِهِ عَلَى النَّفْسِ[12]

Artinya: Al-Suhaily berkata: di sinilah terdapat dalil atas cinta tanah air dan beratnya memisahkannya dari hati. 

Penutup

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa cinta tanah air memiliki dalil yang bersumber dari Qur’an dan Hadits, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama’ seperti; Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqalany, Imam Jalaluddin Al-Suyuthi, Abdurrahim Al-Iraqi, Syaikh Ismail Haqqi Al-Hanafi dan yang lainnya. Sehingga vonis cinta tanah air tidak dalilnya, jelas tidak benar dan tidak berdasar.

Semoga tulisan singkat ini dapat menjawab keraguan-keraguan mereka yang termakan propaganda-propaganda yang menyudutkan NU, sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia yang berjuang bersama komponen bangsa Indonesia lainnya demi merawat serta menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Akhirnya, semoga NKRI menjadi negara yang “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”. Amin.

___

Penulis: Sahabat Supriyono

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Abdurrahim Al-Iraqi, Tharh Al-Tatsrib Fi Syarh Taqribi Al-Asanid Wa Tartibi Al-Masanid, Beirut: Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi.

Abu Syamah, Syarh Al-Hadits Al-Muqtafa Fi Mab’atsi Al-Nabi Al-Mushtafa, Maktabah Al-Umrin Al-Ilmiyah.

Ali, Lukman. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1994.

Al-Jurjani, Ali, Al-Ta’rifat, cet. Ke-1, Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H.

Badr Al-Din Al-Aini, Umdatu Al-Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut: Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi.

Ibnu Hajar Al-Asqalany, Fathu Al-Bari Syarh Shahih Bukhari, Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1379 H.

Ismail Haqqi, Al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut: Dar Al-Fikr.

Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad: Maktabah Al-Rusyd, 1998.

Muhammad Abd Al-Rahman Al-Mubarakfuri, Tuhfatu Al-Ahwadzi Syarh Jami’ Al-Tirmidzi, Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.

Muhammad Mahmud Al-Hijazi, Tafsir Al-Wadlih, Beirut: Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H.

Wahbah Al-Zuhaily, Al-Munir Fi Al-Aqidah Wa Al-Syari’ah Wa Al-Manhaj, Cet. Ke-2, Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H.

Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir Al-Wasith, Damaskus: Dar Al-Fikr, 1422 H.

[1] Ali, Lukman. Dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1994, hal. 98.

[2] Al-Jurjani, Ali, Al-Ta’rifat, cet. Ke-1, Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabi, 1405 H, hal. 327.

[3] Ismail Haqqi, Al-Hanafi, Ruhul Bayan, Beirut: Dar Al-Fikr, Juz 6, hal. 441-442.

[4] Wahbah Al-Zuhaily, Al-Munir Fi Al-Aqidah Wa Al-Syari’ah Wa Al-Manhaj, Cet. Ke-2, Damaskus: Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, 1418 H, Juz 5, hal. 144.

[5] Wahbah Al-Zuhaily, Tafsir Al-Wasith, Damaskus: Dar Al-Fikr, 1422 H, Juz 1, hal. 342.

[6] Muhammad Mahmud Al-Hijazi, Tafsir Al-Wadlih, Beirut: Dar Al-Jil Al-Jadid, 1413 H, Juz 2, hal. 30.

[7] Ibnu Hajar Al-Asqalany, Fathu Al-Bari Syarh Shahih Bukhari, Beirut: Dar Al-Ma’rifah, 1379 H, Juz 3, hal. 621.

[8] Badr Al-Din Al-Aini, Umdatu Al-Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut: Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135

[9] Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Tausyih Syarh Jami Al-Shahih, Riyad: Maktabah Al-Rusyd, 1998, Juz 3, hal. 1360.

[10] Muhammad Abd Al-Rahman Al-Mubarakfuri, Tuhfatu Al-Ahwadzi Syarh Jami’ Al-Tirmidzi, Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Juz 9, hal. 283.

[11] Abu Syamah, Syarh Al-Hadits Al-Muqtafa Fi Mab’atsi Al-Nabi Al-Mushtafa, Maktabah Al-Umrin Al-Ilmiyah, 1999, hal. 163.

[12] Abdurrahim Al-Iraqi, Tharh Al-Tatsrib Fi Syarh Taqribi Al-Asanid Wa Tartibi Al-Masanid, Beirut: Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 4, hal. 196.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Silakan berkomentar

Saling Rebut Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Konsep Dasar Sunnah dan Bid’ah