Saling Rebut Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Mudarah yang dilakukan oleh Sunan Kudus adalah dalam rangka menjaga kelangsungan agama Islam dan menghindari pertikaian

Ziarah di Pesarean KH. Soleh Darat (Sumber: KoranSindo)

Term aswaja adalah term seksi yang kerap diklaim sebagai manhaj setiap kelompok atau ormas yang ada dalam Islam. Dari sumber yang sama yaitu sebuah hadits Nabi tentang firqah-firqah dalam Islam dan dinyatakan oleh Nabi hanya satu yang selamat yaitu ahlussunnah wal jamaah (Aswaja), akhirnya tiap kelompok dalam Islam memplokamirkan dirinya sebagai aswaja dan menuding kelompok lain yang tidak sejalan sebagai kelompok sesat.

Setiap kelompok boleh dan bisa melegitimasi dirinya sebagai bagian dari ahlussunnah wal jamaah atau Aswaja. Namun, jika yang diserukan dan yang diamalkan sangat jauh dari karakteristik Aswaja, maka masyarakat awamlah yang menjadi korban. Mereka yang belum menjatuhkan pilihannya akan bingung karena setiap kelompok yang mereka temui semuanya menyatakan dirinya adalah bagian dari Aswaja. Ketika tidak menemukan titik terang mereka masa bodoh dengan “mencari aman” mengambil posisi netral dan berujar “ora ormas-ormasan, seng penting Islam.” Mereka yang telah masuk terlalu dalam akan membanggakan kelompoknya dan merendahkan kelompok lain bahkan ada yang mengkafirkannya.

Istilah Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagaimana diuraikan oleh Syeikh Abdul Qadir Al Jaylani:

فَالسُّنَّةُ مَا سَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْجَمَاعَةُ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى خِلاَفَةِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ. (الغنية لطالبي طريق الحق، ج ا ص ٨٠)

As Sunnah adalah apa yang telah dijalankan oleh Rasulullah B (meliputi ucapan, perilaku serta ketetapan beliau) sedangkan Jama’ah adalah sesuatu yang menjadi kesepakatan para shahabat Nabi B dalam kekhalifahan khulafa’ Ar Rasyidin.[1]Syeikh Abul Fadhal bin Abdusy Syakur mendefinisikan Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai orang yang konsisten dalam mengikuti sunnah Nabi B dalam akidah keagamaan, amal badaniyyah dan akhlak hati.[2]

Karakteristik Aswaja

Terdapat tiga prinsip dasar yang membedakan kelompok ini dengan kelompok lain yaitu:[3]

  1. Tawasuth atau Wasathiyyah mengambil posisi tengah-tengah artinya tidak ektrim kanan dan tidak pula ekstrim kiri. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Albaqarah: 143).

  1. Tawazun atau seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil naqli (bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits) dan dalil ‘aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional). Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

Sikap tawazun (menggunakan pertimbangan syara’) dalam segala hal ini sering disampaikan oleh KH. Turaichan Adjhuri dalam tiap kesempatan dengan mengutip perintah Allah Subhaanahu Wata’ala:

وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Ukurlah dengan timbangan yang lurus (benar), hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS al-Hadid: 25)

  1. I’tidal atau tegak lurus dan istiqamah. Allah Subhaanahu Wata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)

Ketiga prinsip ini merupakan sikap tengah serta berimbang dalam setiap persoalan. Misalnya, dalam masalah sifat dan Dzat Allah Subhaanahu Wata’ala antara kelompok Mu’aththilah (tidak mengakui adanya sifat bagi Allah Subhaanahu Wata’ala) dan Mujassimin (Menyatakan Allah Subhaanahu Wata’ala memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia), tentang perbuatan Allat Subhaanahu Wata’ala antara Qadariyah (manusia memiliki kekuatan penuh atas dirinya) dan Jabariyah (manusia tidak memiliki daya apa-apa kecuali atas takdir Allah Subhaanahu Wata’ala), menyikapi janji dan ancaman Allah Subhaanahu Wata’ala antara Murji’ah (semua hukuman dan pembalasan diserahkan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala) dan Wa’idiyyah (Allah Subhaanahu Wata’ala pasti akan menghukum orang-oarang yang berdosa), sikap kepada ahlul bait dan sahabat Nabi Muhammad B antara Rafidhah/syi’ah (seluruh sahabat kafir dan ahlul bait adalah orang-orang yang maksum) dan Khawarij (seluruh sahabat dan ahlul bait yang menjadi penyebab peperangan jamal dan shiffin dihukumi kafir,) dan lain sebagainya.

Dalam politik ahlussunnah wal jama’ah memandang negara sebagai kewajiban fakultatif (fardhu kifayah). Negara merupakan alat untuk mengayomi kehidupan manusia untuk menciptakan dan menjaga kemashlahatan bersama (mashlahah musytarakah). Syi’ah yang memiliki sebuah konsep negara dan mewajibkan berdirinya negara (imamah), Pandangan Syi’ah tersebut juga berbeda dengan golongan Khawarij yang membolehkan komunitas berdiri tanpa imamah apabila dia telah mampu mengatur dirinya sendiri.

Ketiga prinsip tersebut dapat dilihat dalam masalah keyakinan keagamaan (teologi), perbuatan lahiriyah (fiqh) serta masalah akhlaq yang mengatur gerak hati (tashawwuf). Dalam praktik keseharian, ajaran Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah di ranah akidah tercerminkan dalam kaidah yang digagas oleh Imam ‘Asy’ari dan Imam Maturidi. Imam Asy’ari terkenal dengan kemampuannya menggabungkan dimensi rasionalitas Mu’tazilah (karena lama menjadi pengikut Mu’tazilah) dan tradisionalitas Jabariyah (fatalistik). Teori kasb (upaya/usaha) adalah buktinya. Teori ini dimunculkan sebagai mediasi antara kaum rasionalis dan tradisionalis, bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk berusaha, namun hasil akhirnya berada dalam kekuasaan Allah

Sedangkan dalam masalah perbuatan badaniyah termanifestasikan dengan mengikuti madzhab yang empat, yakni Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i, dan Madzhab Hanbali. Bangsa Indonesia mayoritas penganut madzhab Syafi’i. Imam Syâfi’i terkenal dengan kemampuannya menggabungkan rasionalitas ahlu al-ra’yi (pengikut Imam Hanafi di Irak) dan tradisionalitas ahlu al-hadîs (pengikut Imam Mâlik di Madinah). Konsep qiyâs (analogi) dan istiqrâ’ (penelitian induktif) dalam menjawab masalah-masalah aktual adalah pemikiran cemerlang Imam Syâfi’i pada masa itu.

Dalam tashawwuf mengikuti Imam Junaid al Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Imam Ghazâli terkenal dengan kemampuannya menggabungkan rasionalitas filosof, formalitas ahli fiqh, dan esoteritas kaum sufi. Ihyâ’ Ulûmiddîn adalah master piece Al-Ghazali yang mengandung kedalaman kajian aqîdah, filsafat, fiqh, tasawuf, sosial dan politik dalam satu kesatuan  yang holistik. Tasawuf falsafi dan amali digabungkan dalam satu pemikiran dan tindakan yang membawa perubahan positif bagi masa depan dunia dan akhirat.

Berikut definisi yang sangat sederhana, disenandungkan dalam untaian nadzam oleh KH. Zainal Abidin Dimyathi dalam kitabnya Al-Idza’ah al-Muhimmah, halaman 47:

مُتَّبِعُوْا السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ * هُمْ تَابِعُوْا مَذَاهِبِ اْلأَ ئِمَّةِ

Pengikut Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah mereka yang mengikuti madzhab para imam

فَفِى اْلأُصُوْلِ اِتَّبَعُوْا الْمَذْهَبَ * الْمَاتُرِيْدِي اْلأَشْعَرِي الْمُهَذَّبَ

Dalam masalah ushul (akidah) mereka mengikuti madzhab Imam Asy’ari dan Maturidi

وَفِى الْفُرُوْعِ أَحَدَ اْلأَرْبَعَةِ * هُمْ قَادَةُ هُدَاةِ هَذِهِ اْلأُمَّةِ

Dalam bidang fiqih mengikuti salah satu madzhab yang menjadi pemimpin umat ini

اَلشَّا فِعِى وَالْحَنَفِى الْمُبَجَّلِ * وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلِ

Imam Syafi’i dan Imam Hanafi yang cemerlang, serta Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal

وَفِى التَّصَوُّفِ أَوِ الطَّرِيْقَةِ * إِمَامَنَا الْجُنَيْدَ ذَا الْحَقِيْقَةِ

Dalam bidang tashawwuf atau thariqah mengikuti ajaran Imam Junaid.

Tasamuh dan Mudaarah

Selain ketiga prinsip di atas, golongan Ahlussunnah wal Jama’ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah Subhaanahu Wata’ala:

فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah Subhaanahu Wata’ala kepada Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik kepada Fir’aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, “Sesungguhnya dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir’aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah”. (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, juz III hal 206).

Sikap tasamuh atau menghormati perbedaan tidak hanya diajarkan oleh para ulama pendahulu (salaf), namun Sayyid Ja’far Shadiq salah satu penyebar agama Islam di kota Kudus telah mewariskan ajaran ini dalam bentuk bangunan masjid dan menara serta larangan menyembelih sapi. Kudus adalah kiblatnya toleransi, demikian KH. Maimoen Zubair menyampaikan pengakuannya saat menyampaikan mawaidh Maulid Nabi Muhammad b di Polres Kudus.

Sejalan dengan pengertian tasamuh, KH. Choiro Zyad TA lebih senang menggunakan kalimat mudaarah dalam membaca sejarah kangjeng Sunan Kudus. Mudaarah terhadap siapa saja termasuk terhadap non muslim yang telah diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala sebagaimana riwayat ‘Aisyah Radliyallah ‘Anha bahwa Rasulullah B bersabda:

إنَّ اللهَ أمَرَنِيْ بِمُدَارَاةِ النَّاسِ كَمَا أَمَرَنِيْ بِإقَامَةِ الْفَرَائِضِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan aku agar mudarah kepada manusia sebagaimana aku diperintahkan untuk menegakkan (menjalankan) semua kewajiban-kewajiban.” (HR. Al-Dailami).

Mudarah adalah beramah-tamah dengan orang lain, berhubungan dengan cara yang baik, dan bersabar menghadapi gangguan mereka, agar mereka tidak menjauh darimu. Dalam Fath al Bary disebutkan bahwa Ibnu Baththal menyatakan Mudarah adalah akhlak orang-orang mukmin, yaitu bersikap rendah hati kepada manusia, berbicara dengan lemah lembut dan meninggalkan sikap keras terhadap manusia. Dan ini merupakan sebab terkuat menuju persatuan.

Dalam istilah jawa kita mengenal Tepa Salira yaitu dapat merasakan (menjaga) perasaan (beban pikiran) orang lain sehingga tidak menyinggung perasaan atau dapat meringankan beban orang lain. Sunan Kudus memahami benar perasaan warga Kudus yang saat itu masih banyak penganut Hindu akan luka hatinya apabila hewan yang mereka muliakan disembelih oleh umat Islam. Kangjeng Sunan lebih memilih menghindari kerusakan dari pada meraih kebaikan. Dengan metode dakwahnya ini Sunan Kudus telah berhasil mengambil hati warga Kudus. Dengan mengikat seekor sapi bernama Kebo Gumarang di halaman masjid orang-orang berbondong-bondong datang ke masjid. Awalnya mereka datang karena penasaran terhadap sapi langka tersebut. Saat orang-orang sudah ramai berkumpul di halaman masjid Sunan Kudus memulai dakwahnya dengan memberikan penjelasan tentang surat Al Baqarah yang berarti “Sapi Betina”. Pada hari raya Idul Adlha di zaman Sunan Kudus sapi-sapi hanya diikat di sekitar Masjid Al Aqsha Menara Kudus dan tidak ada yang disembelih. Hanya kerbau dan kambing yang dipotong untuk hewan kurban. Pendekatan Sunan Kudus ini telah terbukti efektif, banyak penganut Hindu pada saat itu yang berpindah akidah menjadi seorang Muslim.

Mudarah yang dilakukan oleh Sunan Kudus adalah dalam rangka menjaga kelangsungan agama Islam dan menghindari pertikaian. Bukan Mudahanah yaitu mengorbankan agama demi kemashlahatan dunia. Orang yang melakukan mudaarah terhadap non muslim akan berlemah lembut dalam pergaulan tanpa meninggalkan sedikitpun prinsip agamanya. Sedang orang yang melakukan mudahanah akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara apapun untuk meraih keuntungan duniawi dan meninggalkan sebagian prinsip agamanya. Agama harus didakwahkan dengan mudaarah, namun kehormatan agama juga harus pertahankan.

___

Oleh: Sahabat Ahmad Irkham

(Kontributor Aswaja Center GP Ansor Kudus & Pengajar Madrasah TBS Kudus)

Referensi:

[1] Abdul Qadir Al Jaylani, Al Ghunyah Li Thalibi Thariq Al Haq, Juz 1 hal 80

[2] Abul Fadhal bin Abdusy Syakur, Al Kawakib Allama’ah, hal 8-9

[3] KH. Muhyiddin Abdus Shomad, Al-Hujaj Al-Qath’iyyah fi Shihhati Al-Mu’taqadat wal ‘amaliyyat An-Nahdliyyah, hal 4-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Silakan berkomentar

Dzikir Berjama’ah (Antara Tradisi dan Hukum)

Menjawab Vonis: Cinta Tanah Air Tidak Ada Dalilnya