in

Dzikir Berjama’ah (Antara Tradisi dan Hukum)

Dzikir dimaknai hanya sebagai ucapan tahmid, tasbih, tahlil dan semacamnya merupakan hal yang lazim dipahami dari sebagian besar orang awam

Makna Dzikir

Para ulama’ mendefinisikan kata dzikir dalam beberapa definisi. Berikut ini penulis akan menampilkan definisi dzikir dari sebagian ulama’.

Di dalam kitab Fathul Ilah dzikir diartikan sebagai lafadz ysng memiliki nilai ibadah di dalam pandangan syara’, seperti lafadz yang mengandung pengagungan dan pujian terhadap Allah.

Definisi dzikir yang hampir mirip dengan yang ada di kitab fathul Ilah disampaikan oleh Syaikh Ibnu Hajar Al Haitamy pada khutbah kitab Syarh Minhaj Tholibin ( Tuhfatul Muhtaj). Beliau menjelaskan bahwa dzikir adalah semua ucapan yang digunakan untuk memuji dan berdo’a. Secara syara’ terkadang dzikir dima’nai dengan ucapan-ucapan yang pembacanya akan diberi pahala.

Berbeda dengan dua ta’rif diatas, Syaikh Ibnu Hajar Al Asyqolany seorang pakar hadits mengatakan didalam Syarh Shohih Bukhori bahwa dzikir adalah membiasakan mengerjakan perkara-perkara yang diwajibkan dan disunahkan oleh Allah.

Sementara itu Al Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad memasukkan kegiatan mencari ilmu didalam macam-macamnya dzikir.

Perbedaan pendapat mengenai pengertian dzikir adalah sesuatu yang wajar, karena memang di dalam Al Qur’an kata dzikir dalam berbagai bentuknya (syighotnya) memiliki banyak arti (musytarok). Seperti di dalam surat Al Jum’ah ayat 9 dzikir diartikan sebagai khutbah Jum’ah.

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Pada surat Al Baqoroh ayat 203 dzikir berarti ibadah haji

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.”

Sementara pada pada surat Al Baqarah 239  dzikir tafsiri dengan sholat

Jika kamu takut (ada bahaya), salatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan kemudian apabila telah aman maka ingatlah kepada Allah ( sholatlah) sebagaimana dia mengajarkan kepadamu tentang apa yang tidak kamu ketahui.”

Sementara itu didalam hadits Rasulullah kata dzikir banyak mengarah pada ucapan yang mengandung pujian dan pengagungan kepada Allah seperti didalam hadits

لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللهِ

Hendaklah lidahmu selalu basah dengan berdzikir kepada Allah.” (HR At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Meskipun kata dzikir dimaknai dengan berbagai macam makna dan juga didefisinikan dengan berbagai macam definisi, dari semua perbedaan makna dan pengertian dari dzikir ada titik temu yaitu kesemuanya adalah sarana untuk menghadirkan keagungan Allah ketika sedang melaksanakan ibadah kepada Alla

Klasifikasi Dzikir

Dzikir dimaknai hanya sebagai ucapan tahmid, tasbih, tahlil dan semacamnya merupakan hal yang lazim dipahami dari sebagian besar orang awam. Namun ternyata dzikir memiliki makna yang lebih luas dari hanya sekedar ucapan. Dzikir dapat mencakup perbuatan-perbuatan ibadah yang dapat mengingatkan seseorang terhadap keagungan Allah seperti keterangan diatas.

Memahami dari bermacam-macam pengertianya dzikir dapat diklasifikasikan manjadi 3 dari sudut pandang instrumennya. Diantara Ulama yang mengklasifikasikan dzikir menjadi 3 yaitu Imam Fakhru Rozi :

  1. Dzikir dengan lisan : Melafadzkan lafadz-lafadz yang menunjukkan tasbih, tahmid dan semacamnya.
  2. Dzikir dengan hati : Berfikir dengan hati tentang dalil-dalil dzat Allah dan sifat-sifatnya serta dalil-dalil taklif berupa perintah dan larangan-Nya sehingga orang yang berdzikir dapat mengetahui hukum-hukum rahasia-rahasia makhluk.
  3. Dzikir dengan seluruh anggota tubuh : Menyibukkan diri melaksanakan ibadah kepada Allah.

Dzikir dengan lisan meskipun tanpa menghadirkannya di hati sudah mendapatkan pahala selama tidak ada tujuan selain Allah. Kesempurnaan dzikir dihasilkan dengan menuturkan lafadz-lafadz dzikir dengan lisan serta menghadirkan lafadz dan makna dzikir itu di dalam hati.

Redaksi dzikir ada  banyak macamnya. Ada yang memang tuntunan langsung dari Rosulullah yang di sebut ma’tsur. Ada pula yang redaksinya tidak langsung dari Rosulullah tapi dari para ulama’, atau sering disebut dengan dzikir ghoiru ma’tsur. Bagian yang kedua banyak sekali contohnya seperti Rotibul Attos, Rotibul haddad, Rotibul Kubro, atau Hizb-hizb seperti Hizb Nawawi, hizb Nasr dan lain-lain. Kemudian bagaimana hukumnya ? Menurut Syaikh Zaruq hal ini masih sesuai dengan tuntunan Rosulullah beliau berpijak kepada ketetapan Rosulullah terhadap dzikir-dzikir dan do’a yang di dengar langsung dari para sahabatnya meskipun lafadz-lafadznya belum pernah diajarkan langsung oleh Rosulullah sebelumnya. Diantara hadits yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Buraidah Ra. Pada suatu waktu Rosulullah pernah mendengar salah satu sahabat membaca do’a \yang belum pernah diajarkan Rosulullah yaitu :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الوَاحِدُ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا اَحَدٌ

Kemudian Rosulullah berkata: “Sungguh kalian telah meminta kepada Dzat yang selalu mengabulkan permintaan hamba-Nya.”

Meskipun diperbolehkan untuk membuat wirid-wirid sendiri namun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi :

  1. Tidak menggunakan lafadz-lafadz yang menimbulkan kesalah pahaman apalagi bertentangan dengan dzikir ma’tsur.
  2. Pembuatan dzikir muncul dari pancaran kejernihan jiwa orang-orang yang sholeh tidak tercampur hawa nafsu sedikitpun. Inilah yang mungkin menjadikan dzikir-dzikir atau hizb-hizb yang disusun oleh para ulama’ tidak kalah “cespleng” disbanding dengan dzikir-dzikiryang ma’tsur.

Banyak orang yang bisa menyusun aurod-aurod, akan tetapi tidak banyak dari susunan –susunan aurod yang dapat memberikan pengaruh terhadap orang yang membacanya.

Metafora yang indah tentang masalah ini dikutip oleh Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan dalam kitabnya Dzakhirotul Ma’ad. Di dalam kitab ini dikisahkan ada pertemuan kumbang dan lebah. Si kumbang mempunmyai keinginan untuk membuat sarang seperti sarang lebah yang penuh madu. Kemudian belajarlah si kumbang cara membuat sarang. Kemudian dibuatlah sarang itu dan akhirnya jadilah sarang yang sama seperti sarang lebah. Namun ternyata tidak sesuai harapan karena setetes madupun tidak ada dalam sarang itu. Melihat kejadian ini lebah berkata:

اِنَّمَا السِّرُّ فيِ السُّكَّانِ لاَ فيِ المَكَانِ

“ Sebenarnya rahasia ada pada orang yang bukan tempatnya”.

Dzikir Berjama’ah

Pernahkah Rosulullah mengadakan jam’iyahan, tahlilan, isthighosahan, berjanjenan dan semacamnya? Tentu saja tidak. Kemudian timbul pertanyaan, Bid’ahkah? Dan Sesatkah ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kita membuka kembali risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Di situ beliau menjelaskan tidak setiap perkara yang tidak dilakukan Rosulullah adalah bid’ah yang sesat. Karena semua perkara yang baru dan tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah itu selama masih berada dibawah naungan pokok-pokok syari’ah secara umum tidak bisa di vonis sebagai bid’ah.

Contoh kebiyasaan berkumpul mengadakan dzikir berjama’ah di sebagian masyarakat muslim Indonesia yang kita warisi secara turun temurun dari nenek moyang kita meskipun tidak terjadi pada zaman Rosulullah namun hal ini diperbolehkan karena tidak ada sedikit unsurpun yang bertentangan denganm syari’at bahkan sebaliknya.

Imam As Syaukani menjelaskan di dalam Ar Rosa’il As Salafiyah : bahwa adat-adat yang berlaku di sebagian daerah berupa perkumpulan di rumah / di masjid-masjid untuk membaca Al Qur’an yang ditujukan untuk orang yang telah meninggal dan perkumpulamn lain yang memang tidak dilakukan oleh Rosulullah selama tidak mengandung maksiat-maksiat dan kemungkaran maka tidak diragukan hukumnya boleh. Terlebih didalam acara itu berisi kegiatan-kegiatan yang bernilai ibadah seperti membaca Al Qur’an, tahlil, dan sebagainya.

Itu sendiri tidak haram karena Rosulullah pun pernah berkumpul dengan sahabatnya di masjid dan di rumahnya yang dalam perkumpulan itu didendangkan sya’ir, cerita-cerita, makan dan minum. Maka suatu kekeliruan jika masih ada orang yang beranggapan bahwa perkumpulan yang terhindar dari perkara haram sebagai bid’ah.

Kesimpulan ini dikuatkan oleh ayat Al Qur’an dan Hadits, bahkan Imam Nawawi dalam Kitab Riyadhus Sholihin mengumpulkan hadits mengenai halaqoh-halaqohdzikir di alam satu bab tersendiri dengan judul (بَابُ فَضْلِ حِلَقِ الذِّكْرِ  ). Di dalam, beliau menyebutkan 1 ayat Al Qur’an dan 4 hadits yang terkait masalah ini:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.”

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” مَا جَلَسَ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةَ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ”

Tidaklah duduk suatu kaum dengan berdzikir kepada Allah kecuali mereka akan dikepung oleh malaikat, dipenuhi oleh rahmat-rahmatnya, dan disebut Allah sebagai orang yang di sisi Allah.”

عن أبي سعيد الحدرى قال قال رسول الله : ” لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ المَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةَ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةَ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ” (صحيح مسلم)

Tidaklah duduk suatu kaum dengan berdzikir kepada Allah kecuali mereka akan dikepung oleh malaikat, dilingkupi rahmat, diberikan ketenangan dan disebut Allah sebagai orang yang berada di sisi-Nya.”

والله أعلم

Penulis: Sahabat Khafidhul Insan

Referensi :

  1. Al Bayan Fima Yusyghilul Adzhan, Syaikh Ali Jum’ah.
  2. Al Hujjah Al Qothhi’iyah, Kyai Muhyiddin Abdus Shomad
  3. Dzakhirotul Ma’ad, Syaikh Al Imam AL Arif Billah Abdullah bin Ahmad bersaudara Al Kindy
  4. Kanzun Najah Was Surur, Syaikh Abdul Hamin Muhammad Al Quds
  5. Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari
  6. Riyadus Sholihin, Syaikh Syarofuddin Yahya An Nawawi
  7. Subulus Salam, Muhammad bim Isma”il As Son’ani.

 

 

Saling Rebut Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Konsep Dasar Sunnah dan Bid’ah