in

Konsep Dasar Sunnah dan Bid’ah

Apakah dalil-dalil bid’ah itu berlaku pada keumumannya secara mutlak atau tidak?

Pendahuluan

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ‪.

Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i)

Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak hadits yang berbicara tentang bid’ah. Namun untuk memahami perkara bid’ah ini tidak asal begitu saja kita pahami secara harfiah atau tekstual dari hadits tersebut, sehingga siapapun menjadi mudah untuk mengklaim saudara-saudaranya semuslim yang melakukan satu perkara yang tidak pernah dilakukan di zaman nabi SAW kita anggap sebagai pelaku bid’ah yang sesat, dan jika ia sesat berarti tempatnya di neraka. Agar tidak berkesan tergesa-gesa ada baiknya kita memahami terlebih dahulu masalah ini melalui kajian-kajian dari para ulama salafush-shalih kita yang telah terlebih dulu mengkajinya.

Sunnah dan Bid’ah adalah dua  term  yang berlawanan dalam syari’at yang dibawa nabi Muhammad SAW. Keduanya tidak bisa didefinisikan sendiri-sendiri kecuali dengan cara mendifinisikan salah satunya, karena Bid’ah adalah antonim dari Sunnah. Untuk mendefinisikan Bid’ah penulis akan mengkaji tentang Sunnah terlebih dahulu seperti yang dilakukan Rasullullah SAW dan para Ulama yang memerintahkan melakukan sunnah secara continue terlebih dahulu kemudian memperingatkan tentang Bid’ah.

adalah konsep perilaku dari Nabi SAW dimana praktek aktual menjadi basis yang terpenting. Sebagai sebuah konsep yang merujuk kepada perilaku Nabi, Sunnah bisa dipastikan mengalami perubahan yang sebagian besar berasal dari praktik aktual masyarakat Muslim dari generasi ke generasi. Praktek aktual tersebut terus menjadi subjek modifikasi melalui tambahan-tambahan yang berbanding lurus dengan perkembangan situasional masyarakat dalam berbagai permasalahan yang menyangkut hukum, moral dan keagamaan. Pada tataran inilah muncul berbagai kontroversi dan penafsiran yang bertentangan yang kemudian diselesaikan oleh al-Syafi’i melalui proses kanonisasi dan kodifikasi sunnah ke dalam hadis.

Makna Sunnah Secara Etimologis dan Terminologis

Sunnah secara bahasa adalah jalan yang dilalui. Namun secara umum, sunnah adalah jalan yang terpuji, meski terkadang sunnah juga digunakan untuk selain itu, sebagaimana disebutkan dalam hadist Nabi SAW,

Barangsiapa yang memulai dalam Islam sunnah (jalan) kebaikan, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelah dia dengan tanpa ada pengurangan sedikitpun terhadap pahalanya. Dan barangsiapa memulai dalam Islam sunnah (jalan)kejelekan, maka baginya dosanya dan dosa orang yang melakukannya setelah dia dengan tanpa ada pengurangan sedikitpun dari dosanya”. (HR.Muslim).

Sunnah juga berarti tabiat, hukum Allah dan aturan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Ahzab:62

sebagai sunnah Allah yang telah berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah”.

Adapun sunnah menurut syara’ adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi SAW dan termasuk juga sifat-sifat fisik dan perilaku beliau. (Lihat as-sunnah an-nabawiyyah wa makanatuha fi at-tasyri’ al-islami karya Abdul Munshif Mahmud Abdul Fattah 7.).

Makna ini berarti bahwa sunnah mencakup yang wajib (seperti penjelasan Nabi SAW dalam masalah ibadah dan akidah), mandub (sama dengan istilah sunnat dalam fikih, yaitu dilakukan dapat pahala dan ditinggalkan tidak berdosa) dan mubah(seperti perbuatan Nabi SAW yang berhubungan dengan tabiat kemanusiaan pada umumnya (makan, minum dll); baik dalam perbuatan, perkataan maupun keyakinan (akidah).

Di refrensi lain Sunnah secara etimologis bermakna perilaku atau cara berperilaku yang dilakukan, baik cara yang terpuji maupun yang tercela. Ada sunnah yang baik dan ada yang buruk, seperti yang diungkapkan pleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya :

Barangsiapa membiasakan (memulai atau menghidupkan) suatu perbuatan baik dalam Islam, dia akan mendapatkan pahala dari perbuatannya itu dan pahala dari perbuatan yang mengikuti kebiasaan baik itu setelahnya dengan pahala yang sama sekali tidak lebih kecil dari pahala orang orang yang mengikuti melakukan perbuatan baik itu. Sementara, barangsiapa yang membiasakan suatu perbuatan buruk dalam Islam, ia akan mendapatkan dosa atas perbuatannya itu dan dosa dari perbuatan orang yang melakukan keburukan yang sama setelahnya dengan dosa yang sama sekali tidak lebih kecil dari dosa-dosa yang ditimpakan bagi orang-orang yang mengikuti perbuatannya itu.(Lihat Yusuf al-Qardhawi, al-Muntaqo min kitab at-Targhib wa at-Tarhib, hadits 41).

Terminologis makna Sunnah sendiri banyak pendapat dari kalangan Ulama. Baik dari disiplin ilmu hadits, ilmu ushul fiqh. Namun ada juga makna sunnah yang lain yang menjadi perhatian para ualama’ syari’at, yaitu sunnah dengan pengertian antonim dari bid’ah. Untuk itu penulis akan lebih banyak menjelaskan tentang definisi dan perhilafan tentang Bid’ah sehingga makna sunnah itu akan bisa dipahami secara komprehensif.

Makna Bid’ah Secara Etimologis dan Terminologis

Untuk mengetahui pengertian bid’ah yang benar maka kita harus terlebih dahulu memahami arti bid’ah secara bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi/syariat). Bid’ah yaitu hal baru yang disisipkan pada syariat setelah ia sempurna. Ibnu As-Sikkit berpendapat bahwa bid’ah adalah segala hal yang baru. Sementara istilah pelaku bid’ah (baca: mubtadi’) menurut adat terkesan tercela. Bid’ah adalah melakukan satu perbuatan yang nyaris belum pernah dilakukan oleh siapapun, seperti perkataan Anda: si fulan berbuat bid’ah dalam perkara ini, artinya ia telah mendahului untuk melakukan hal itu sebelum orang lain.

Ada dua cara yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah menurut syara’.

Segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW adalah Bid’ah

Pandangan ini dimotori oleh Al Izz bin Abdussalam (ulama madzhab Syafi’i), dia menganggap bahwa segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW sebagai bid’ah. Bid’ah ini pun terbagi kepada hukum yang lima. Berikut perkataan Al Izz: “Amal perbuatan yang belum pernah ada di zaman Nabi SAW atau tidak pernah dilakukan di zaman beliau ‘Izzu al-Din bin Abdissalam membagi bid’ah menjadi lima bagian sesuai dengan al-ahkam al-syar’iyyah alkhamsah.

  1. Bid’ah wajibah, yaitu bid’ah yang dilakukan untuk mewujudkan hal-hal yang diwajibkan oleh syara’, misalnya sibuk mempelajari ilmu nahwu, sharaf, ushul fiqih untuk memahami kalam Allah sebab menjaga syari’ah itu wajib, dan upaya penjagaan itu tidak akan bisa terwujud, kecuali dengan menguasai ilmu alat (nahwu, sharaf, ushul fiqih, dll.), karena itu belajar ilmu tersebut juga wajib.
  2. Bid’ah muharramah, yaitu bid’ah yang bertentangan dengan syara’, seperti madzhab jabbariyah dan murji’ah.
  3. Bid’ah mandubah, yaitu suatu kebaikan yang belum pernah dilakukan pada masa Nabi SAW, misalnya melakukan salat tarawih dengan berjama’ah, mendirikan madrasah, dll.
  4. Bid’ah mubahah, misalnya mushafahah (berjabatan tangan) sesudah salat shubuh dan ashar, makan makanan yang lezat.
  5. Bid’ah makruhah, yaitu sesuatu yang kurang pantas dilakukan, misalnya, menghiasi masjid dengan hiasan yang berlebihan.

(Lihat Abu Muhammad ‘Izzu al-Din bin Abdussalam, Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Juz I, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, TT, hal. 173.)

Adapun dalil yang menjadi dasar pembagian bid’ah ini menjadi lima adalah:

#1 Perkataan Umar tentang shalat tarawih berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan dengan mengatakan,

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Diriwayatkan dari Abdurrahaman bin Abdul Qari, dia berkata:

Aku keluar rumah bersama Umar bin Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Kami menyaksikan orang-orang terbagi-bagi, masing masing melakukan shalat sendirian. Kemudian Umar berkata,

“Aku berpandangan andai saja aku bisa mengumpulkan mereka pada satu imam maka ini lebih baik dan ideal.”

Beliaupun bertekad mengumpulkan mereka dengan imamnya Ubai bin Ka’ab. Kemudian aku keluar ke masjid pada hari berikutnya bersama beliau, kamipun melihat orang-orang sedang shalat dibelakang satu imam. Umar lalu berkata,

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Adapun melakukannya di akhir malam maka itu lebih afdhal daripada melakukannya di awal malam. (HR. Bukhari)

#2 Abdullah bin Umar menilai shalat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah di masjid adalah bid’ah, padahal itu merupakan perkara baik.

Diriwayatkan dari Mujahid, dia berkata: Aku dan Urwah bin Zubair masuk masjid, ternyata ada Abdullah bin Umar sedang duduk di samping serambi rumah Aisyah, lalu ada sekelompok orang melakukan shalat Dhuha secara berjamaah. Kamipun menanyakan hukum shalat mereka ini kepadanya, diapun menjawab. “Bid’ah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

#3 Hadits-hadits yang menunjukkan pembagian bid’ah menjadi bid’ah baik dan buruk diantaranya adalah yang diriwayatkan secara marfu’ (shahih dan sampai pada nabi SAW):

“Siapa yang memulai suatu perbuatan baik maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Siapa yang memulai suatu perbuatan buruk maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat.” (HR. Muslim).

Adapun untuk mengetahui semua itu adalah mengembalikan semua perbuatan yang dinggap bid’ah itu di hadapan kaidah-kaidah syariat, jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip wajib maka perbuatan itupun menjadi wajib (bid’ah wajib), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip haram maka perbuatan itupun menjadi haram (bid’ah haram), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip sunah maka perbuatan itupun menjadi sunah (bid’ah sunah), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip mubah (boleh) maka perbuatan itupun menjadi mubah (bid’ah mubah). (Lihat Qawa’id Al Ahkam fi Mashalihil Anam, juz 2. h. 204).

Makna tersebut juga dikatakan oleh Imam An-Nawawi yang berpendapat bahwa segala perbuatan yang tidak pernah ada di zaman Nabi dinamakan bid’ah, akan tetapi hal itu ada yang baik dan ada yang kebalikannya/buruk. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Juz 2.h. 394)

Definisi Bid’ah Syariat Lebih Khusus

Cara kedua yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah adalah: menjadikan pengertian bid’ah menurut syariat lebih khusus dari pada menurut bahasa. Sehingga istilah bid’ah hanya berlaku untuk suatu perkara yang tercela saja, dan tidak perlu ada penamaan bid’ah wajib, sunah, mubah dan seterusnya seperti yang diutarakan oleh Al Izz bin Abdussalam. Cara kedua ini membatasi istilah bid’ah pada suatu amal yang diharamkan saja. Cara kedua ini diusung oleh Ibnu Rajab Al Hambali, ia pun memjelaskan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan yang tidak memiliki dasar syariat yang menguatkannya, adapun jika suatu perbuatan ini memiliki dasar syariat yang menguatkannya maka tidak dinamakan bid’ah, sekalipun hal itu bid’ah menurut bahasa. (lihat Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam h. 223).

Sebenarnya kedua cara yang ditempuh para ulama ini sepakat mengenai hakikat pegertian bid’ah, perbedaan mereka terjadi pada pintu masuk yang akan mengantarkan pada pengertian yang disepakati ini, yaitu bahwa bid’ah yang tercela (madzmumah) adalah yang berdosa jika megerjakannya, dimana perbuatan itu tidak memiliki dasar syar’i yang menguatkannya, inilah makna yang dimaksud dari sabda Nabi SAW,

‫كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Setiap perbuatan bid’ah itu sesat.

Definisi yang jelas inilah yang dipegang oleh para ulama, ahli fikih dan imam yang diikuti. Imam Syafi’i–sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi–bahwa beliau berkata,

Perkara baru yang tidak ada di zaman nabi SAW itu ada dua kategori:

  • Perkara baru yang bertolak belakang dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka itu termasuk bid’ah yang sesat (bid’ah dhalalah).
  • Perkara baru yang termasuk baik (hasanah), tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka perkara baru ini tidak tercela.”

(Riwayat Al Baihaqi. Lihat kitab Manaqib Asy-Syafi’i, juga oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’. 9/113)

Sunnah dan Bid’ah dalam Perbincangan Ulama’

Untuk memudahkan pembahasan, kita sandarkan pembahasan ini dengan mengacu pada beberapa hal mendasar berikut ini.

  1. Apakah dalil-dalil bid’ah itu berlaku pada keumumannya secara mutlak atau tidak? Konkritnya, bagaimana pemaknaan lafadz “kullu” dalam Hadis “kullu bid’atin dhalalah”?
  2. Perdebatan mereka dalam memahami kalimat “man sanna sunnatan hasanatan” dari Hadis Rasulullah SAW dan argumen lain yang diperselisihkan?
  3. Pemahaman Kelompok Penolak Adanya Bid’ah Hasanah

Kelompok yang menolak adanya bid’ah hasanah berpendapat bahwa agama Islam telah sempurna sebelum wafat Rasulullah SAW, tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan. Mereka berdalil dengan beberapa dalil.

  • al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 3:

Pada hari ini [masa haji wada’] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamuagamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”.

Di atas telah disampaikan bahwa terkait dengan Surat al-Maidah ayat 3 ini, Imam Malik RA mengatakan :

“Barangsiapa membuat bid’ah dalam Islam, dan dia menyangka bid’ahnya itu baik, maka berarti dia menuduhMuhammad mengkhianati (tidak menyampaikan) risalah karena Allah telah berfirman, “Pada hari ini telah akusempurnakan bagimu agamamu.

Oleh karena itu, Imam Asy-Syathibi, pengikut Imam Malik, mengatakan bahwa apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka ia bukan termasuk agama pula pada hari ini. (lihat Asy-Syathibi, Al-I’tisham, I, hal. 64.)

  • Hadis dari Jabir bin Abdillah maupun Hadis lain dari ‘Irbadh bin Sariyah yang di dalamnya terdapat kalimat “kullu bid’atin dhalalah”, dipahami bahwa Hadis ini berlaku secara mutlak untuk makna umum.

Perkataan Nabi SAW “kullu bid’atin dhalalah” setiap bid’ah itu kesesatan, merupakan “jawami’ul kalam” yang meliputi segala sesuatu, kalimat itu merupakan salah satu dari pokok-pokok ajaran agama yang agung.

Ibnu Hajar berkata, “Perkataan Nabi SAW “setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan suatu kaidah agama yang menyeluruh, baik itu secara tersurat maupun tersirat. Adapun secara tersurat, maka beliau bersabda, “Hal ini bid’ah hukumnya dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan”, sehingga ia tidak termasuk bagian dari agama ini, sebab agama ini seluruhnya merupakan petunjuk. Oleh karena itu, apabila telah terbukti bahwa suatu hal tertentu hukumnya bid’ah, maka berlakulah dua dasar hukum itu (setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan bukan dari agama), sehingga kesimpulannya adalah tertolak.” (lihat Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bary, XIII, (Kairo: Dar al-Dayyan li al-Turats, 1986 M), hal. 254.)

Dari beberapa pendapat penolak bid’ah hasanah terlihat bahwa mereka memahami kalimat “kullu bid’atin dhalalah” dalam Hadis sebagai berikut. Semua dalil yang menjelaskan tercelanya bid’ah sebagaimana Hadis; “Kullu bid’atin dhalalah” adalah dalil umum yang berlaku tetap/mutlak. Oleh karena itu, tidak ada bid’ah kecuali bid’ah dhalalah, sekalipun shahibul  bid’ah mengaku hasanah/baik. Istilah bid’ah yang dipakai untuk melabeli bid’ah dalam agama, setelah Rasulullah wafat, adalah kesimpulan melalui kekhususan dalil, bukan keumumannya. Sesungguhnya bid’ah yang tercela, yang dimaksudkan menurut syara’ tidak menerima pembagian. Adapun bid’ah yang oleh para ulama dibagi menjadi beberapa macam itu adalah bid’ah secara kebahasaan yang memang berlaku lebih umum. (Lihat Abdurrauf Muhammad ‘Utsman, Mahabbat al-Rasul Baina al-Itba’ wa al-Ibtida’, Juz I, Riyadh: Ruasat Idarat al-Buhuts al-’Ilmiyah wa al-Ifta’ wa al-

Irsyad, 1414 H, hal. 302.)

Pemahaman Kelompok Pendukung Adanya Bid’ah Hasanah

Kelompok pendukung adanya bid’ah hasanah memahami Hadis “Kullu bid’atin dhalalah” sebagai dalil umum yang telah di-takhshish (dikhususkan) dengan Hadis lain, yaitu Hadis tentang pelaksanaan salat tarawih berjama’ah, sebagaimana disampaikan sahabat Umar bin Khatab “Ni’mat al-bid’atu hadzihi”/ inilah sebaik-baik bid’ah. Hadis tersebut akan dapat dipahami secara lengkap,  jika diawali dengan Hadis fi’liyah Rasul dalam melakukan qiyam Ramadhan sebagai berikut.

Diriwayatkan oleh Bukhari dari ‘Urwah, bahwasanya ‘Aisyah RA mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW keluar pada sepertiga malam yang akhir untuk melakukan salat di masjid, lalu beberapa sahabat salat sebagaimana salat Nabi. Pagi harinya, orang-orang membincangkan (salat Nabi itu), maka berkumpullah para sahabat itu (pada malam berikutnya) dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya, Nabi salat, lalu mereka salat bersama Nabi. Pagi harinya orang-orang membincangnya, lalu pada malam ketiga jama’ah masjid semakin banyak. Nabi keluar (dari rumah menuju masjid) lalu salat dan sahabat salat bersamanya. Pada malam keempat, masjid penuh sesak jama’ah (menunggu kedatangan Nabi) sampai masuk waktu subuh. Setelah salat subuh Rasulullah menghadapkan wajahnya kepada manusia (jama’ah), setelah membaca syahadat, Rasul mengucapkan: amma ba’du , sesungguhnya yang menghawatirkan aku bukan masalah kalian menunggu, namun aku khawatir (qiyam al-lail fi ramadhan) dianggap wajib bagi kalian, lalu kalian tidak mampu melakukannya. Lalu Nabi SAW wafat, dan perkara tetap sebagaimana adanya. (lihat Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab shalat al-tarawih, bab fadhli man qama ramadhan, Juz 3, hal. 58-59.)

Pada masa sahabat Abu Bakar dan awal kekhalifahan Umar bin Khatab, pelaksanaan qiyam al-lail Bulan Ramadhan masih tetap sebagaimana zaman Nabi SAW. Pelaksanaan qiyam al-lail itu tidak dilakukan sebulan penuh dan tidak dilaksanakan secara berjamaah dengan seorang imam saja. Dalam Hadis berikut digambarkan secara jelas.

Dari Abdurrahman bin Abd al-Qari’ dia berkata: Saya keluar ke masjid bersama Umar bin Khattab pada bulan Ramadhan, ketika itu manusia berkelompok-kelompok secara terpisah, ada seorang laki-laki salat sendirian, ada seorang laki-laki salat diikuti sekelompok orang (antara 3 sampai 10 orang / al-rahthu). Kemudian Umar bin Khattab berkata: Demi Allah sesungguhnya ditunjukkan padaku (sesuatu), jika aku kumpulkan mereka (untuk melakukan salat) dengan satu imam/qari’, tentu itu lebih utama. Kemudian beliau mengumpulkan jama’ah dengan seorang imam Ubay bin ka’ab. Abdurrahman bin Abd al-Qari’ berkata: Kemudian saya keluar lagi bersama ‘Umar bin Khattab pada  satu imam berjama’ah di masjid selama bulan Ramadhan dan jumlah rakaatnya pun tidak ditetapkan dengan jumlah tertentu, mereka salat dengan jumlah raka’at yang berbeda-beda. Melihat kondisi yang demikian itu, Khalifah Umar bin Khattab mempunyai inisiatif yang baik untuk mengumpulkan mereka dalam satu imam, dengan jumlah rakaat yang tetap dan dilakukan dengan berjama’ah di masjid sepanjang malam Bulan Ramadhan. Cara itulah yang dinilai Umar lebih baik dan cara itupun disetujui oleh semua sahabat, tidak satu pun sahabat yang memprotesnya. Akhirnya ditetapkan salat tarawih dengan berjama’ah di masjid dalam satu imam, dengan jumlah raka’at tertentu, 20 raka’at selain witir dan dilaksanakan sepanjang malam Bulan Ramadhan. malam yang lain, dan manusia salat bersama seorang imam mereka. Lalu Umar bin Khattab berkata “Sebaik-baik bid’ah (terobosan baru) adalah ini”. Salat yang dilakukan setelah tidur lebih utama dari pada salat yang dilakukan sebelum tidur (awal malam), beliau menginginkan di akhir malam, namun orang-orang melakukan salat di awal malam (HR. Imam Malik).

Hadis semakna diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari. Dari Hadis di atas, tampak bahwa pada saat Umar bin Khattab RA menjadi khalifah, keadaan salat tarawih masih tetap seperti masa Nabi SAW dan khalifah Abu Bakar RA, yaitu tidak mengadakan salat tarawih dengan satu imam berjama’ah di masjid selama bulan Ramadhan dan jumlah rakaatnya pun tidak ditetapkan dengan jumlah tertentu, mereka salat dengan jumlah raka’at yang berbeda-beda. Melihat kondisi yang demikian itu, Khalifah Umar bin Khattab mempunyai inisiatif yang baik untuk mengumpulkan mereka dalam satu imam, dengan jumlah rakaat yang tetap dan dilakukan dengan berjama’ah di masjid sepanjang malam Bulan Ramadhan. Cara itulah yang dinilai Umar lebih baik dan cara itupun disetujui oleh semua sahabat, tidak satu pun sahabat yang memprotesnya. Akhirnya ditetapkan salat tarawih dengan berjama’ah di masjid dalam satu imam, dengan jumlah raka’at tertentu, 20 raka’at selain witir dan dilaksanakan sepanjang malam Bulan Ramadhan.

Menurut pemahaman kelompok pendukung adanya bid’ah hasanah, cara yang dilakukan Umar itu merupakan terobosan baru yang sangat baik dan belum pernah dilakukan pada masa Nabi maupun sahabat Abu Bakar RA. Di sinilah terjadi adanya inovasi baru dalam hal ibadah. Jika saja umat Islam mengikuti apa adanya fi’liyyah Rasul, tentu salat tarawih hanya akan dilaksanakan pada beberapa malam saja di Bulan Ramadhan, dengan jumlah rakaat yang bervariasi dan pelaksanaan salat malam itu akan terlihat tidak teratur.

Pendukung adanya bid’ah hasanah ini memahami bahwa Hadis “Kullu bid’atin dhalalah” sebagai dalil umum yang sudah dikhususkan dengan dalil lain. Oleh karena tidak setiap “kullu” bermakna seluruh atau semua, ada kalanya berarti sebagian, yaitu ketika ada qarinah (sesuatu yang menunjukkan maksud perkataan) yang mendukung makna “sebagian” tersebut berupa dalil lain yang bersifat khusus. Ada beberapa argumen yang mendukung pendapat ini, baik melalui kajian ilmu balaghah, mantiq, maupun pemahaman melalui pendekatan kebahasaan.

___

Penulis: Sahabat Ahmad Bahruddin

Dzikir Berjama’ah (Antara Tradisi dan Hukum)

Menjawab Vonis: Cinta Tanah Air Tidak Ada Dalilnya